TEKNIK MENULIS : DIKTE DAN SEBUAH CARA MENGHASILKAN TULISAN BERMODALKAN SUARA




Dikte Cara Ampuh Menyelesaikan Naskah Novel Lebih Cepat!

BisaNulis.Online - Apakah masih ada yang berpikiran bahwa menulis itu merupakan hal yang sulit dilakukan di era modern saat ini? Kini, kamu enggak ada alasan lagi. Sekarang, ngebacot aja bisa jadi penulis, loh! 

Nama tekniknya, dikte. 

Dikte sudah menjadi metode dasar belajar menulis yang selalu diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia, kamu pasti pernah diajarkan dikte juga, kan? Sebab, dikte dinilai sebagai kurikulum belajar karena menciptakan interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Bagi penulis, dikte pun menjadi opsi lain dari teknik menulis naskah novel.

Pengertian dikte mengarah kepada kegiatan mengucapkan kata agar ditulis kembali oleh yang mendengarkannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa dikte merujuk kepada tindakan menulis kembali kata-kata yang didengar dari pengucap. Sedangkan makna dikte dalam di KBBI, merupakan ‘dibaca keras-keras supaya ditulis orang lain’.

Sinonim dikte yakni imla yang dinilai efektif sebagai metode belajar perangsang otograf pendengar dalam memroses kata yang didengar, menjadi tulisan.

Dalam kajian ‘Kemampuan Berbahasa Indonesia di Kelas Rendah’ yang disusun oleh Mahasiswa PGRI Semarang pada tahun 2014, dijabarkan ... 

Manfaat Dikte Bagi Penulis Pemula

yakni ;
  • Pertama, mengetahui kesalahan penulisan atau ejaan sebuah kata, kalimat, atau bacaan singkat secara cepat.
  • Kedua, dikte meningkatkan kemahiran mendengar dan menulis.
  • Ketiga, dikte melatih daya ingat jangka pendek terhadap kata atau kalimat yang didengar sebelum dituliskan.
  • Keempat, dikte menjadi acuan kemahiran berbahasa dan pengenalan kosakata baru.
  • Tambahan, dikte meningkatkan pemahaman terhadap hal yang dibacakan, sehingga mampu mengarang kata sesuai dengan kata yang telah didengar.

Penulis asal Amerika, Joanna Penn menuturkan bahwa dikte membuatnya berhasil menghasilkan 5000 kata dalam waktu satu jam. Joanna Penn bilang;

Suara tulisanku berubah melalui proses dikte, sehingga membuat ceritaku lebih segar dan dialognya lebih jelas. Dikte merupakan cara yang mudah sebagai teknik menulis-lisan.

Teknik Menulis Menggunakan Dikte
Joanna Penn | Bisa nulis.Online

Dilansir dari artikel “5 Teknik Umum Menulis Novel di Wattpad” Dikte merupakan rekomendasi cara menulis novel lebih produktif untuk kamu yang tidak memiliki banyak waktu atau sedang ingin mencari gaya menulis baru sehingga dapat mengalahkan writter’s block dan juga menghacurkan kemalasan.

Sebagai penyegaran, dikte memungkinkanmu menulis kembali ide-ide dan bagian-bagian yang telah diucapkan ke alat perekam.

Jadi, sejak kapan dikte dinilai efektif sebagai metode belajar menulis dan membuat dikte dinilai ampuh sebagai cara menyelesaikan naskah novel lebih cepat?

Sejarah Dikte

Dikutip dari artikel ‘A History of Dictation in Foreign Language Teaching and Testing’ yang ditulis oleh Charles W. Stansfield, bersumberkan dari buku ‘The Modern Language Journal’ volume 69 tahun 1985.

Dikte menjadi salah satu teknik tertua dalam proses pembelajaran bahasa. Di abad pertengahan; dikte digunakan sebagai media pengajar antara Guru dengan murid. 

Dikte pada abad pertengahan

Pada masa itu, dikte digunakan sebagai pelatihan menerjemahkan Kitab Taurat dan memahami makna-makna yang tersirat di dalamnya. Sedangkan di Arab, proses dikte atau menulis bahasa Arab itu disebut, Imla.

Pada akhir abad ke-6 memasuki abad ke-7 atau pada masa kenabian Muhammad SAW. Banyak pemeluk agama Islam mulai pandai baca-tulis. Hal itu dikarenakan gebrakan program Nabi Muhammad SAW yang gencar ‘memberantas buta huruf’.

Makna Dikte Menurut Peneliti

Karena orang-orang di Timur Tengah telah menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi pada masanya, membuat mereka mengalami perkembangan di dunia tulis menulis dengan mengenal kata dan alat-alat tulis.

Salah satu seni bahasa bangsa Arab Klasik adalah Ars Dictaminis atau seni mendikte. Istilah Ars Dictaminis juga bermakna 'mengarang'.

Makna itu dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan pada abad ke-19. 

Orang-orang pada masa Renaisans dalam gerakan Humaniora Italia yang diungkapkan oleh Wilhelm Wattenbach, bahwa orang-orang pada masa Renaisans sering mendiktekan tulisannya ketika menulis surat.

Menemani Wilhelm, seorang peneliti yang sama-sama meneliti Ars Dictaminis pada abad ke-19, Ludwig Rockinger, mengatakan bahwa dikte adalah ungkapan sastra dengan deretan kata yang ditata indah dan rangkaian kalimat dengan gaya yang penuh hiasan.

Pengertian itu diperkuat oleh Charles Thurot yang juga meneliti Ars Dictaminis pasca penelitian Ludwig Rockinger.

Thurot menjelaskan bahwa Ars Dictaminis adalah seni mengarang dengan bahasa yang indah.


Menurut Ludwig Rockinger, dikte didefinisikan ke dalam epistolari atau surat-surat para rasul yang menjadi bagian dari Kitab. Hal ini lah yang membuat dikte menjadi metode dasar belajar memahami kata, sebab kata diucapkan sebelum ditulis.

Sehingga ...

Pengertian dikte dapat diartikan sebagai, ‘seseorang mengucapkan, dan seorang lagi menulis yang diucapkan’. Pengertian dikte juga bisa berarti mengarang, yang memiliki perumpamaan, ‘menulis kata yang diucapkannya sendiri’ atau ‘mengucapkan kata yang hendak ditulis’.

DIKTE DALAM KEHIDUPAN MANUSIA MODERN

Manusia telah mengalami banyak perubahan peradaban yang diiringi perkembangan teknologi dan gaya hidup, demikian juga dengan cara menulisnya.

Sebelum manusia mengenal huruf, kita menceritakannya dengan menggambar setiap adegan demi adegan menggunakan goresan.

Setelah itu, orang-orang mengukir tulisan di atas batu. Kemudian, manusia menulis menggunakan pena bulu dan kertas.

Pada awal abad ke-19. John Mitchell dari Birmingham di Inggris, mulai mengembangkan pena yang dibuat dari mesin. Lalu, hadirlah mesin ketik yang diikuti oleh perkembangan komputer. Saat ini, komputer telah digantikan oleh laptop karena lebih praktis dan fleksibel.

Pilihan lain adalah handphone atau ponsel yang jauh lebih praktis dan nyaris dimiliki oleh setiap manusia modern. Berbeda dengan komputer dan laptop yang hanya dimiliki oleh golongan tertentu saja.

Perkembangan handphone yang semakin menjadi-jadi, menciptakan gaya baru cara menulis. Dengan adanya fitur merekam suara dan fitur 'speech to text' yang diadaptasi dari alat perekam suara ciptaan Thomas Alfa Edison, membuat penulis tidak perlu lagi menggunakan jari jika hendak menuang buah pikiran menjadi tulisan.

Kini, penulis hanya membutuhkan suara dan imajinasi. 

Microphone Podcast

Penggunaan mesin dikte atau perekam suara di jaman dulu biasannya digunakan oleh wartawan atau orang-orang yang ingin menulis ulang pidato atau rekaman wawancara yang diaplikasikan melalui mesin tik.

Kini, di era yang lebih praktis. Penulis tak perlu lagi duduk di depan peralatannya selama berjam-jam memikirkan kata yang ingin dirangkai. Cukup rekam ceritanya menggunakan G-Board atau Google Keyboard yang ada di handphone.

Bisa jadi dalam beberapa waktu ke depan. Semua orang bisa menghasilkan naskah cerita tanpa harus menulisnya. Sebelum mengenal G-Board yang direkomendasikan sebagai alat perekam suara atau 'speech to text'. Mari terlebih dahulu mengenal ...

Manfaat Dikte Bagi Penulis Milenial

1. Dikte Mencegah Masalah Kesehatan

Dikutip dari hellosehat yang melansir dari webmd; duduk terlalu lama ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan yang mengakibatkan:

  • Otot membakar lemak lebih sedikit.
  • Sirkulasi darah lebih lambat.
  • Asam lemak lebih mudah menyumbat peredaran darah ke jantung.

Dari ketiga hal yang disebutkan sebagai dampak buruk duduk terlalu lama, ternyata juga memengaruhi kreativitas otak. Hal itu disebabkan karena suplai darah dan oksigen ke otak yang lebih lambat.

Selain itu, duduk terlalu lama juga mengakibatkan kelebihan berat badan serta tekanan pada tulang belakang dan cakram yang menyusun tulang belakang. Hal ini menyebabkan sakit pada leher dan tulang belakang.

Namun kini berkat dikte kegiatan menulis dilakukan tanpa harus duduk terlalu lama di depan meja atau kedai kopi yang ditemani peralatan menulis. Bahkan, bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan lain.

2. Dikte Menghindari Writer's Block


Mengutip penjelasan makna Writer's Block dari Artikel yang telah dipublikasikan, sebelumnya. 


Writer’s Block merupakan suatu kondisi yang menghambat kreatifitas penulis dan menyebabkan penulis tidak dapat menghasilkan kata-kata sehingga menciptakan kebingungan yang menimbulkan rasa frustasi.

Dengan mendiktekan tulisan melalui perekam suara, diyakini mampu menghilangkan kekhawatiran penulis tentang deskripsi yang sempurna.

Selain itu, dikte juga mampu menyampingkan kegelisahan penggunaan tata bahasa dan tanda baca yang benar. Sebab, peranti dikte G-Board yang ada di semua gawai ponsel sudah memiliki kosakata yang sesuai dengan PUEBI.

Merekam cerita menggunakan teknik mendikte juga memberikan kesempatan bagi penulisnya mengeluarkan semua gagasan yang berputar-putar di benak dengan menuangnya lebih lugas karena mudah diucapkan.

3. Dikte Lebih Menghemat Waktu


Perlu 4.200 kata dalam seminggu untuk mencapai sasaran 50.000 kata selama 3 bulan.

Dalam artikel ' 17 Tips Menulis Ala Stephen King : Menulis dalam dua Perspektif '. Penulis Novel Best-Seller 'IT' yang telah diangkat ke layar lebar itu, Stephen King, menuturkan ...

Rancangan awal sebuah buku--bahkan yang panjang--harus memakan waktu tidak lebih dari tiga bulan.

Jangan gunakan waktu terlalu banyak. Deadline itu bagus untuk sebuah pencapaian. Faktanya, kecepatan mengetik manusia biasanya lebih lambat dari kecepatan bicara.

Menurut RataType; rata-rata orang mengetik sekitar 40 kata per menit, itu pun dilakukan ketika menulis, mengetik, dan berpikir secara bersamaan.

Sebaliknya, rata-rata kecepatan percakapan manusia menghasilkan 150 kata dalam semenit. Berdasarkan rata-rata ini, diperlukan waktu dua jam untuk dapat mengetik 4.200 kata dalam sehari.

Namun, apabila merekamnya, hanya dibutuhkan waktu 28 menit atau kurang dari setengah jam dalam satu hari untuk menghasilkan 4.200 kata.

4. Dikte Menghindari self-editing


Banyak penulis yang risau dengan karangannya sendiri dan memilih membacanya ulang. Sehingga, mudah berhenti dan kehilangan kendali. Ide pun, mudah buyar. Insecure terhadap diri sendiri sebenarnya tidak baik. Jika ditela’ah lebih luas, menyunting sambil menulis juga bagian dari teknik menulis.

Tapi kebanyakan cara itu tidak berlaku untuk penulis pemula yang mementingkan kesempurnaan dan tidak terlalu besar memikirkan menyelesaikannya.

Sebaliknya, merekam kata-kata dapat membantu membunuh editor yang ada dalam batin setiap insan penulis, sebab penulis tidak dapat mengedit saat mendikte. Jadi, dikte membuat penulis tidak mudah berhenti di tengah jalan sembari meninjau kembali tulisannya.

5. Dikte Mampu Menuang Ide Lebih Banyak


Karena berbicara lebih cepat daripada menulis dan dikte juga membuat penulsinya tidak berhenti membaca kembali tulisannya. Penulis dapat menangkap semua ide yang muncul di kepala.

6. Dikte Membuat Dialog Terdengar Lebih Natural


Kebanyakan novel yang bagus melibatkan dialog. Sebab, dialog merupakan salah satu elemen novel yang memiliki pengaruh besar.

Dialog berfungsi sebagai;

- Penyampai Informasi
- Penokohan Karakter
- Penyambung Alur
- Penyulut Konflik

Tentu, bahasa tulisan berbeda dari bahasa berbicara. Dalam dialog yang menggunakan bahasa kurang formal atau percakapan sehari-hari. Dikte membuat dialog lebih terdengar natural. Seperti yang dibuktikan oleh Joanna Penn.


Dengan merekam dialog, penulis bisa mendapatkan nada suara yang lebih alami. Intonasi dan dialek yang natural. Hal itu membuat karakter di dalam novel lebih berkarakter, sebab penulisnya mendalami peran dengan serius.

7. Dikte Bisa Menulis di Mana Saja


Terkahir, fungsi dari penggunaan handphone itu sendiri. Lebih fleksibel dan memungkingkan menullis dilakukan di mana saja. Bayangkan saja, biasanya ide akan hilang beberapa menit dari pikiran jika tidak cepat dituangkan ke catatan.

Memikirkan itu, ketika menulis biasanya penulis sudah menyaring ide yang didapatnya. Berbeda dengan mendiktekannya, ide yang benar-benar mentah itu dapat dicatat dengan jelas karena tersampaikan lewat ucapan.

Selain itu, menulis dengan mendikte atau merekam suara juga dapat dilakukan di luar ruangan. Hal ini memungkinkan penulis mendapatkan lebih banyak ide sebab dikte dapat dilakukan di ruang terbuka.

Dengan melakukannya di luar ruangan, penulis bisa mendapatkan pasokan oksigen yang lebih banyak, sehingga pikirannya lebih kreatif dan lebih menyehatkan.

Rekomendasi Peranti/Alat Dikte – Aplikasi Google Keyboard (G-Board)


Berkembangnya teknologi juga memengaruhi aplikasi menulis di handphone yang turut mengalami peningkatan fitur. Salah satunya yakni mengubah suara menjadi sebuah teks.

Google Keyboard atau G-Board adalah peranti atau alat ketik virtual dari Google yang memiliki fitur 'talk to text' atau 'speech to text'.

Mengalami pembaruan, G-Board memungkinkan penggunanya dapat mengetik hanya menggunakan suara. Tentu bukan hal baru bagi Google, sebab fungsi ini sudah dikembangkan dan dapat dirasakan oleh banyak orang sebelumnya.

Ada banyak aplikasi serupa yang dapat diunduh di Google Play Store. Tapi G-Board lebih direkomendasikan sebab merupakan produk dari Google.

Google Keyborad sudah tidak diragukan lagi dalam bidang 'bahasa' di dunia virtual.

Bahasa Indonesia di Google telah banyak melakukan penyempurnaan sehingga G-Board lebih cocok digunakan untuk menulis novel tanpa menulisnya dengan cara mendiktekan menggunakan G-board. Artikel ini bahkan ditulis menggunakan aplikasi G-Board yang ada di Android Xiaomi Redmi 5A tahun 2018.

Cara Mengaktifkan Google Keyboard

Kamu bisa mendapatkan G-Board di Google Play Store dengan cara mengunduh Google Keyboard atau klik tautan yang mengarah ke Google Play Store ini; gratis!

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.android.inputmethod.latin

Bisa jadi kamu sudah memilikinya sesuai kondisi handphone bawaan pabrik.

Setting Google Keyboard untuk Fitur Dikte.

Download Google Keyboard
Tampilan Google Keyboard di Android dan Menu Setting di G-board | BisaNulis.Online

Klik Setting di Google Keyboard atau Setelan. Kemudian, pilih menu Dikte. 

Setting Google Keyboard
Tampilan menu Dikte di bagian Setelan/Setting Google Keyboard | BisaNulis.Online


Aktifkan fitur dikte dengan mengklik tombol di kanan dan pilih bahasa yang tersedia secara offline dengan cara mengunduhnya terlebih dahulu.

Fitur Dikte sudah Aktif dan dapat digunakan. Cukup buka aplikasi Notepad atau aplikasi serupa yang dapat mengolah kata. Kemudian, klik ikon Microphone di bagian kanan G-Board. 

Kamu bisa menggunakan bahasa yang lain, selain Indonesia.

Ukuran file Bahasa-nya juga tidak terlalu besar.

Jangan lupa! Pilih kolom penyesuaian pembaruan aplikasi, agar G-Board kamu bertindak sesuai kendalimu.

Penutup:

Dikte menjadi opsi pilihan lain menulis naskah artikel atau novel tanpa harus menulis kata dem kata. Cukup ucapakan kata yang hendak ditulis di peranti G-Board atau alat serupa yang mengubah 'Speech to Text'.

Kamu bisa menggunakan opsi lain jika ingin mendikte tanpa harus mengubahnya menjadi tulisan hanya dengan merekamnya saja dan dengarkan kembali sembari menulisnya.

Cobalah menggunakan teknik dikte sebagai cara menulis novel. Mana tahu, teknik ini memang tepat kamu aplikasikan dan cocok untukmu.

Akhir kata kuucapkan terima kasih.

Semangat menulis! Teruslah menulis. Sebab kini ada banyak cara menulis dan menghasilkan karya tulis. Salah satunya adalah Dikte.

Mungkin, beberapa tahun ke depan. Semua orang bisa mengisahkan ceritanya dan editor hanya menyuntingnya. Hal ini, mungkin akan membuat industri percetakan dan seni kreatif lebih berkembang pesat.

Disusun dan disunting oleh : Hend Jobers
Publikasi : Hend Jobers

Posting Komentar

0 Komentar